Saturday, September 29, 2018

Memahami Pengertian Seni Rupa

Lukisan, Musik, Tari, Seni Rupa


Memahami Pengertian Seni Rupa. Mengapresiasi karya seni merupakan landasan pokok dalam mempelajari seni budaya. Selain untuk mempeluas pengetahuan tentang seni, hal ini juga untuk mendekatkan anda dengan seni. Kata apresiasi secara etimologi berasal dari bahasa latin, yaitu appretiatus yang artinya "memberi putusan dengan rasa hormat sebagai cara untuk menghargai suatu keindahan karya seni". Adapun dalam kamus umum Inggris-Indonesia to apreciate artinya "menghargai" dan appreciation artinya "penghargaan". Dengan demikian, mengapresiasi seni dan menjadi peka terhadap unsur didalamnya sehingga secara sadar mampu menikmati dan pada akhirnya dapat pula menilai karya seni dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali terdapat pandangan yang keliru terhadap pengertian seni. Hal ini bisa terjadi akibat terbatasnya informasi tentang pengertian seni. Dampaknya adalah adanya kesenjangan antara seni dengan lingkungan sosial dan lemahnya kadar apresiasi seni dikalangan pelajar dan masayarakat pada umumnya. Sebuah karya yang tercipta akan membuat efek lain pada diri penciptanya dan orang lain.

Suka tidak suka, indah atau tidak indah, menyenangkan atau tidak menyenangkan, serta berbagai perasaan lain akan dirasakan oleh orang yang melihat karya seni tersebut. Banyak orang yang mengatakan bahwa seni merupakan sesuatu yang mengandung nilai indah, ada seni yang tidak indah, namun tetap mengandung kata seni. Indah atau tidak indahnya suatu karya seni bergantung pada seniman yang membuatnya dan juga para penikmat seni. Sepanjang sejarahnya, manusia tidak terlepas dari seni. Seni merupakan bagian dari kehidupan manusia yang universal. Hal ini karena seni merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang mengandung nilai indah (estetis). Seni tidak mempunyai definisi tersendiri mengingat kompleksitas dan kedalamannya. Pengertian seni lebih terarah pada konsep yang muncul secara variatif sesuai dengan pemahaman penghayatan, pandangan seseorang terhadap seni yang dijadikan acuan atau batasan.
Readmore → Memahami Pengertian Seni Rupa

Motivasi Penyemangat Belajar

Kata-kata Motivasi Semangat Belajar


Kadang kala bosan datang menimpa, lelah tiba menghampiri, letih terasa fikiran. Untuk menghilangkan itu semua, simaklah Kata-kata pembangkit semangat belajar kamu - kamu kembali, bacalah dengan santai, rilek, lupakan segala persoalan, teliti kata demi kata, maka kamu akan menemukan intisari yang tersirat di balik kata-kata Motivasi belajar ini.

Kata Kata Mutiara Pembangkit Semangat Belajar

  1. “Jika seseorang bepergian dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan menjadikan perjalanannya seperti perjalanan menuju surga” – Nabi Muhammad SAW.
  2. "Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia” – Nelson Mandela
  3. “Jika anda mendidik seorang pria, maka seorang pria akan terdidik. Tapi jika anda mendidik seorang wanita, sebuah generasi akan terdidik” – Brigham Young
  4. “Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah engkau hidup selamanya” – Mahatma Gandhi
  5. “Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini” – Malcolm X
  6. “Seseorang yang berhenti belajar adalah orang lanjut usia, meskipun umurnya masih remaja. Seseorang yang tidak pernah berhenti belajar akan selamanya menjadi pemuda” -Henry Ford
  7. “Berikan seorang pria semangkuk nasi dan Anda akan memberinya makanan untuk sehari. Ajarkan seorang pria memelihara padi dan Anda akan memberinya makanan seumur hidup” – Confusius
  8. “Pendidikan bukanlah proses mengisi wadah yang kosong. Pendidikan adalah proses menyalakan api pikiran” – W.B. Yeats
  9. “Tujuan dari belajar adalah terus tumbuh. Akal tidak sama dengan tubuh, akal terus bertumbuh selama kita hidup” – Martimer Adler.
  10. “Jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan mendapatkannya. Jika kamu tidak bertanya maka jawabannya adalah tidak. Jika kamu tidak melangkah maju, kamu akan tetap berada di tempat yang sama” – Nora Roberts
  11. “Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus” – Arthur Wellesley.
  12. “Belajar layaknya mendayung ke hulu; Jika tidak maju, maka akan terhanyut ke bawah” – NN
  13. Pengetahuan yang benar tidak diukur dari seberapa banyak Anda menghafal dan seberapa banyak yang mampu Anda jelaskan, melainkan, pengetahuan yang benar adalah ekspresi kesalehan (melindungi diri dari apa yang Allah larang dan bertindak atas apa yang Allah amanatkan) – diriwayatkan oleh Abu Na’im.
  14. “Pendidikan setingkat dengan olahraga dimana memungkinkan setiap orang untuk bersaing” – Joyce Meyer
  15. Pembelajaran tidak didapat dengan kebetulan. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun” – Abigail Adams
  16. “Berpikir adalah kegiatan tersulit yang pernah ada. Oleh karena itu hanya sedikit yang melakukannya” – Henry Ford.
  17. "Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.” – Albert Einstein
  18. "Belajar memang bukan satu-satunya tujuan hidup kita. Tetapi kalau itu saja kita tidak sanggup atasi, lantas apa yang akan kita capai” – Shim Shangmin
  19. “Sekolah maupun kuliah tidak mengajarkan apa yang harus kita pikirkan dalam hidup ini. Mereka mengajarkan kita cara berpikir logis, analitis dan praktis.” – Azis White
  20. “Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan” – Mario Teguh
  21. “Adalah baik untuk merayakan kesuksesan, tapi hal yang lebih penting adalah untuk mengambil pelajaran dari kegagalan” – Bill Gates
  22. “Jangan pernah berhenti untuk terus belajar, karena dari belajar kamu tidak pernah kehabisan akal.” – AnakUnsri.com
  23. ”Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas” – Ali Bin Abi Thalib RA.
  24. ”If you want to get laid, go to college. If you want an education, go to the library” – Frank Zappa
  25. ”Ilmu itu di dapat dari lidah yg gemar bertanya dan akal yg suka berpikir”. – Abdullah bin Abbas
  26. ”Education is the ability to listen to almost anything without losing your temper or your self-confidence.” – Robert Frost
  27. ”Education: the path from cocky ignorance to miserable uncertainty.” – Mark Twain
  28. S.T.U.D.Y = Singing, Tweeting, Unlimited Texting, Dreaming, Yawning!
  29. Seseorang dengan wawasan yang cukup untuk mengakui kekurangannya berada paling dekat dengan kesempurnaan.
  30. Pengetahuan ditingkatkan dengan belajar; kepercayaan dengan perdebatan; keahlian dengan latihan & cinta dengan kasih sayang.
Readmore → Motivasi Penyemangat Belajar

Thursday, August 30, 2018

Naskah Pidato Tauhid Dalam Islam

Tiada kata yang lebih patut kita ucapkan terlebih dahulu selain ucapan syukur, puja dan puji hanya kepada Allah SWT., Penguasa jagat semesta. Dia-lah yang menganugerahkan kepada kita umat manusia berbagai macam kenikmatan yang tiada terhingga.

Shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada panutan kita Nabi Muhammad SAW., beserta keluarganya, sahabat-sahabatnya serta kita sekalian orang -orang yang beriman kepadanya sampai akhir zaman.

Terima kasih saya sampaikan kepad saudara pembawa acara yang telah memberikan kepada saya kesempatan untuk berbicara di hadapan hadirin pada saat yang berbahagia ini.

Baiklah, untuk mempersingkat waktu, izinkanlah saya untuk memulai berbicara tema :
Tuhid dalam Islam

Sebagaimana kita ketahui bahwan Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah untuk mengajarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Prinsip pertama dalam ajaran Islam adalah pengakuan bahwa tiada tuhan yang wajib serta berhak disembah dengan benar selain Allah SWT. Prinsip ini kita kenal dengan nama Tauhid.

Sebelum keadatangan Nabi Muhammad SAW. orang-orang Quraisy adalah para penyembah patung dan berhala. Mereka meyakini bahwa berhala dan patung tersebut adalah perantara yang dapat menghubungkan mereka dengan Allah. Hal ini direkam oleh ayat suci Al-Qur'an surat Az-Zumar, ayat 3 :

(Mereka berkata) Kami tidak menyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar [39]:3)

Islam mengajarkan bahwa keyakinan seperti itu adalah batil. Manusia diperintahkan untuk menyembah Allah tanpa perantara serta tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun atau siapa pun. Meyakini adanya tandingan atau sekutu bagi Allah adalah perbuatan syirik, sedangkan syirik adalah dosa besar yang tidak akan memperoleh ampunan-Nya.

Hadirian yang berbahagia.

Ketikan sebagian kecil orang-orang Quraisy tersebut menerima Islam dan meyakini ketauhidan Allah, terjadilah perubahan  yang sangat signifikan dan prinsip dalam kehidupan mereka. Mereka yang pertama kali memeluk Islam ini kemudian dikenal sebagai as-Sabiqunal Awwalun. Mereka sanggup berhadapan dengan risiko apapun setelah keyakinan tauhid tertanam kuat di hati mereka.

Tentu kuta mengenal seorang sahabat, Bilal bin Rabah, ia kuat menahan intimidasi dan siksaan orang-orang Quraisy. Ia dipaksa untuk melepaskan keyakinannya bahwa Allah adalah Esa. Ia dijemur di bawah terik matahari gurun yang panas membara, ditindih dengan batu besar serta dipukuli dengan cambuk. Namun yang terdengar dari mulutnya adalah kata-kata suci yang menunjukkan kekuatan aqidah tauhid, "Ahad! Ahad! Ahad!" Subhanallah, dampak dari aqidah tauhid itu telah mengangkatnya menjadi manusia mulia di sisi Allah.

Saudara-saudara seiman.

Tauhid adalah akar Islam. Tanpa tauhid, maka pengakuan kita sebagai muslim dan mukmin tidaklah bernilai apapun. Oleh karena itu, kita harus menjaga ketauhidan kepada Allah. Mengakui ketauhidan Allah bukan hanya dengan kata-kata, tetapi harus disertai dengan keyakinan dalam hati serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah berarti meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta dan hanya Dia yang wajib dan berhak disembah. Dia-lah yang berhak untuk mengatur seluruh kehidupan manusia serta semua ciptaan-Nya yang lain dengan undang-undang dan hukum Allah, bukan dengan hukum buatan manusia.

Keyakinan tauhid ini harus tertanam dalam hati setiap orang yang mengaku muslim. Dengan bertauhid, maka mereka akan ridha dan rela diatur dengan aturan Allah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasul dalam setiap aspek kehidupan mereka. Dengan bertauhid, maka segala macam ideologi-isme dan pemikiran manusia semata yang bertentangan dengan undang-undang dan hukum Allah akan ditolak. Dengan bertauhid, maka yang ada hanyalah kehidupan Islami karena ajaran Islam diterapkan tidak sebatas pada ritual ibadah tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan. 

Hadirin yang berbahagia....

Demikianlah apa yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala kesalahan.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Readmore → Naskah Pidato Tauhid Dalam Islam

Wednesday, August 29, 2018

Cara Berpidato Yang Baik Dan Menggetarkan Audiens, Contoh Pidato Bahasa Indonesia

TIPS-TIPS PRAKTIS BERPIDATO DENGAN BAIK


Setiap santri/siswa mempunyai potensi untuk mampu berpidato dengan baik dengan bahasa Indonesia, Inggris dan Arab asalkan mau berlatih dengan sungguh-sungguh. Semua naskah dalam buku ini sudah kami uji cobakan kepada santri-santri kami dan pada umumnya mereka dapat menguasai setiap satu naskah dalam satu atau dua pekan.
Berikut ini adalah tips-tips praktis yang kami sarankan untuk kamu lakukan dalam mempergunakan buku ini dan kemudian berlatih pidato di depan teman-temanmu:
  1. Untuk naskah bahasa Inggris dan Arab mulailah dengan memahami isi naskah, bagaimana cara pengucapan dan intonasi kalimat dengan bimbingan senior atau gurumu. Setelah itu kamu mulai bisa menghafalkannya sedikit demi sedikit.
  2. Bila kamu seorang pemula sebaiknya naskah berbahasa Inggris dan Arab dihafalkan di luar kepala untuk kemudian berpidato sesuai dengan yang dihafalkan. Sebenarnya kamu bisa saja berimprovisasi dengan menambah atau mengubah kalimat-kalimat yang ada, apalagi untuk naskah berbahasa Indonesia tentunya kamu memiliki lebih banyak kesempatan dan kemampuan untuk mengembangkannya.
  3. Ketika berbicara di hadapan hadirin, kamu menjadi titik sentral pandangan mereka, oleh karena itu berpenampilanlah sebaik mungkin, bila diperlukan gunakan aksesori sewajarnya untuk mendukung penampilanmu.
  4. Berdirilah dengan tenang. Arahkan pandangan ke segenap hadirin dengan memperlihatkan raut muka yang ceria. Bila merasa gugup atau takut, tariklah napas dalam-dalam kemudian hembuskanlah perlahan-lahan. Berbicaralah dengan artikulasi yang jelas, jangan terlalu cepat ataupun terlalu lambat.Aturlah volume dan intonasi suara sesuai dengan kalimat yang diucapkan.
  5. Gerakan tangan, anggukan kepala dan ekspresi mimik lainnya diperlukan untuk mempertegas maksud yang disampaikan. Namun,terlalu banyak menggerakkan tangan juga kurang bagus. Usahakan tidak berpidato seperti anak kecil yang sedang berdeklamasi atau membaca puisi.
Nah, selamat berlatih dan semoga berhasil!

Inilah Contoh  Pidato Pembawa Acara Yang Bisa Anda praktekan 


Pertama kali, marilah bersama-sama kita memanjatkan puji syukur ke hadirat llahi Rabbi, Allah SWT, yang telah menganugerahkan nikmat-Nya kepada kita sekalian.hingga kita masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk mengikuti acara latihan berpidato ini. 

Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada panutan kita, nabi Muhammad saw. beserta segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang beriman kepadanya sampai akhir zaman.

Hadirin yang berbahagia.

Izinkanlah kami di sini sebagai pembawa acara untuk membacakan terlebih dahulu susunan acara latihan berpidato bahasa Indonesia pada hari ini:
1. Pembukaan
2. Pembacaan ayat-ayat suci al-Qur'an
3. Penampilan para pembicara
4. Pengumuman
5. Penutup
Untuk mengawali acara ini, marilah kita membukanya secara resmi dengan membaca basmalah:
Menginjak acara yang kedua, pembacaan ayat suci al-Qur'an. Kepada saudara ... kami persilahkan dengan hormat.
Demikianlah pembacaan ayat suci al-Qur'an telah dilaksanakan, semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita sekalian.Amin.

Hadirin yang berbahagia.

Selanjutnya marilah kita memasuki acara ketiga yang kita nantikan bersama yaitu penampilan para pembicara. Pembicara yang pertama saudara ............................... Dengan segala hormat kami persilahkan naik ke podium.
Setelah Pembicara Turun Podium 

Selesai sudah seluruh pembicara tampil di hadapan kita dengan berbagai gaya dan topik pembicaraan masing-masing. Untuk acara selanjutnya adalah pengumuman-pengumuman. Kepada kakak pembimbing kami persilahkan untuk menyampaikan pengumuman.

Hadirin sekalian

Sampailah kita di penghujung acara. Selaku pembawa acara, kami memohon maaf apabila ada kesalahan dan terima kasih atas perhatian dan kerjasama hadirin sekalian untuk kelancaran acara ini. Marilah kita akhiri acara ini dengan membaca kafaratul majlis:




Readmore → Cara Berpidato Yang Baik Dan Menggetarkan Audiens, Contoh Pidato Bahasa Indonesia

Monday, August 27, 2018

Husni, Bung Karno, Tan Malaka dan Si Entong

Husni, Bung Karno, dan Tan Malaka

Muhammad Husni Thamrin adalah seorang pejuang kemerdekaan yang menggunakan cara-cara cooperation, Co (istilah yang digunakan kala itu). Bung Karno menggunakan cara-cara non cooperation, Non Co. Tan Malaka menggunakan cara-cara Non Co yang radikal.

Husni Thamrin berjuang within the existing system,karena itu ia menerima pengangkatan sebagai anggota Volksraad hingga empat periode, dan sebelumnya sebagai anggota Propinciale Raad dan Gementeraad. Ada pun Bung Karno berjuang beyond the existing system.

Tetapi hubungan pribadi Husni dan Bung Karno sangat bagus. Ketika Bung Karno ditahan di penjara Sukamiskin, Bandung, tahun 1929 hingga tahun 1931, Husni beberapa kali menjenguknya.

Konsisten dengan cara berjuang Co, mula-mula Husni menolak permintaan berbicara di depan rapat umum kaum pergerakan. Tetapi pada akhirnya ia sangat rajin berbicara di depan rapat-rapat umum di seluruh Hindia Belanda. Husni Thamrin mulai disorot Polisi Rahasia Belanda. Apalagi kemudian Husni mendukung mosi Wiwoho Indonesia Berparlemen. Husni kian disorot.

Husni Thamrin menjadi tokoh yang dianggap berbahaya ketika diketahui ia memberikan sokongan rutin sebesar 200 perak, equivalent 120 juta rupiah sekarang, kepada partainya Parindra setiap bulannya. Jumlah sokongan yang sangat besar untuk ukuran zaman itu. Selain itu Husni juga memberikan gedung Gg. Kenari untuk kaum pergerakan. Di gedung inilah kaum Non Co menggelar rapat-rapat umum.

Status "berbahaya" Husni ditingkatkan menjadi "wanted" ketika diketahui bahwa Husni adalah tokoh yang difavoritkan dunia Internasional. Bahkan dalam kunjungannya ke Hindia Belanda secara khusus Presiden Filipina menyampaikan hasratnya untuk bertemu dan berkenalan dengan Muhammad Husni Thamrin. Maka Polisi Rahasia Belanda memutuskan Muhammad Husni Thamrin harus disingkirkan dengan segala cara.

Siapa Si Entong?

Sangat mungkin Entong bukan nama sebenarnya, tapi panggilan. Orang seperti Entong yang menjadi "bujang dalem" biasanya bujangan, usia antara 14 - 18 tahun. Berbeda dengan "bujang luar" yang biasa disebut tukang kebon. Tukang kebon umumnya sudah berkeluarga.

Dalam posisi apa pun Entong, duduk di tepi tempat tidur Tuan, atau bersimpuh menunggu perintah, Entong segera berdiri jika Dr. Kayadu memasuki kamar Tuan Husni Thamrin. Dari mana Entong belajar kesopanan, pastilah dari Tuan.

Dari mana asal Entong? Empiris, sampai dengan tahun 1950-an setahu saya orang-orang Sawah Besar suka memelihara bujang dalem dari Kebayuran. Anak-anak ini putra tukang buah yang menjadi langganan Tuan. Entong berada dalam lingkungan dalam keluarga Tuan Husni Thamrin bisa atas permintaan Tuan kepada si tukang buah, bisa juga atas tawaran tukang buah. "Tuan tulunglah anak saya ini dididik, biardia ikut Tuan" biasanya tukang buah berkata begitu. Entong adalah anak rakyat sejati.

Entong adalah satu di antara empat orang yang menemani Husni Thamrin dalam saat-saat kritis dari tanggal 6 hingga 11 Januari 1941. Mereka adalah Nyonya Thamrin, putrinya, Dr. Kayadu, dan Entong. Bahkan Husni Thamrin bersama Entong ketika terjadi proses perpisahan ruh dari tubuhnya. Husni rasa tercekik, dari mulutnya keluar buih. Entong melap dengan selampe. Sebelumnya Husni Thamrin berkata-kata yang tidak dimengerti Entong. Husni Thamrin kembali dalam posisi rebah. Entong keluar kamar karena ingin buang hajat sambil menemui Nyonya Thamrin dan putrinya yang sedang menangis di ruang belakang. Nyonya Thamrin dan putri masuk ke dalam kamar. Mereka jumpai Husni Thamrin sudah tidak bersuara. Entong masuk kamar, mengamati Tuannya, lalu memastikan Tuannya telah tiada. Sangat mungkin Husni Thamrin telah berpulang sebelum Entong keluar kamar untuk keperluan buang hajat.

Sepanjang hayatnya Husni Thamrin berpikir, berbuat, dan berjuang untuk kepentingan rakyat. Subhanallah, Muhamamd Husni Thamrin wafat dalam pelukan rakyat yang disimbolkan pada figur Entong.

Ke mana Entong setelah Husni Thamrin tiada? Sangat mungkin ia kembali ke Kebayuran dalam lingkungan keluarganya. Dalam kasus seperti ini biasanya Nyonya rumah menawarkan apakah si bujang mau bersamanya walau Tuan sudah tiada. Biasanya dengan halus bujang menampik. Dia akan mengatakan ingin pulang karena sudah rindu dengan ibu bapaknya.

Ada hubungan batin antara Tuan dan bujangnya yang tak mungkin dituangkan dalam kata-kata. Kenangan bersama Husni Thamrin dibawa mati Entong, karena ia tak dapat mentransformasinya dalam tulisan. Entong setelah kembali di Kebayuran sangat mungkin menikah. Lalu datang masa Jepang. Tetapi orang Kebayuran tidak kesulitan pangan. Seandainya sejarah hidup Entong linear, datar, maka Entong diperkirakan sudah berpulang, kalau pun masih hidup usianya mendekati 90 tahun. Mungkin keturunannya masih ada. Diperkirakan anaknya yang tertua sekarang berusia 70 tahun. Tetapi ke mana mencari Entong dan keturunannya?

Dari mana Entong datang, tak seorang pun yang tahu, ke mana Entong pergi, tak jua ada yang tahu.
Readmore → Husni, Bung Karno, Tan Malaka dan Si Entong

Tanggapan Media Tentang Muhammad Husni Thamrin

Tanggapan Media
Berikut sari "induk karangan" sejumlah koran di Hindia Belanda yang terbit tanggal 14 Januari 1941 menanggapi kewafatan Muhamad Husni Thamrin.

Tjaja Timoer, Batavia

Jika Tuan Mr. Jonkman, voorzitter (ketua,RS) Volksraad sendiri mengatakan tanggal 10 Januari 1941 penahanan Thamrin saja untuk sementara tidak boleh menghadiri Volksraaad sudah berarti memberi suatu bekas pada kehidupan Staatkundig (ketatanegaraan, RS) di dalam negeri ini, tentulah dapat dipahamkan meninggalnya tiba-tiba dalam keadaan semacam ini, mungkin sekali memberi bekas dan kerugian yang tidak mudah diperbaiki lebih dari yang dapat diketahui oleh voorzitter Volksraad, karena Tuan Thamrin adalah satu motor dari pergerakan Nasional yang penting, seorang kampiun yang bekerja dengan berterang-terang dan giat dalam segala hal dengan Pemerintah dalam kalangan parlementaire instituten (lembaga parlemen) yang diizinkan oleh Grondwet (hukum dasar) dan Ind. Staatsregeling (Aturan Pemerintah Hindia Belanda).

Pemandangan, Batavia
Apakah jasanya? Jasanya ialah terletak dalam perjuangan marhum Muhammad Husni Thamrin dalam Volksraad, Provinciale Raad, dan Gemeenteraad. Di situlah letaknya lapang usaha dan perjuangan dan di situlah letaknya kekuatan dan jasa-jasa yang besar dari marhum Muhammad Husni Thamrin.

Berita Oemoem, Bandung

Sebagai Dr. Soetomo, nama Muhammad Husni Thamrin tidak cuma terkenal dalam lingkungan bangsa sendiri, tetapi juga sampai di luar negeri.
Di sana Thamrin juga cukup disebut-sebut dan diteropong gerak langkahnya sebagai pemimpin dan pendekar Nasional Indonesia yang sedang berjuang untuk perbaikan nusa dan bangsa.

Pewarta Deli, Medan
Setelah menerima berita yang menyedihkan itu tentang Thamrin pagi ini, yang disiarkan oleh Nirom dan perstelegrammendienst Aneta (kawat berita kantor berita Aneta, RS), maka seolah-olah kita tidak percaya mula-mula. Dari berita yang lalu juga disiarkan, bahwa Thamrin sakit demam keras waktu beliau digeladah oleh PID Betawi (Polisi Rahasia, RS), akan tetapi karena di Betawi banyak dokter pandai-pandai, tentu penyakit beliau itu menurut dugaan bisa mungkin lekas sembuh. Bagi Tanah Seberang, terutama bagi penduduk Medan, Thamrin tidak asing lagi, melainkan sudah terkenal sebagai Abang Thamrin seperti kepopulerannya di Betawi. Selain pidatonya di Volksraad, orang dapat perhatikan sendiri gerak gerik tangan dan bunyi suaranya yang nyaring tetapi tenang itu, waktu beliau mengadakan pidato propaganda kebangsaan di Medan.

Thamrin terkenal juga sampai ke luar negeri. Dalam buku John Gunther Inside Asia, tersebut nama Thamrin sebagai leider (pemimpin, RS) Fraksi Nasional di Volksraad.

Suara Kalimantan, Banjarmasin
M. H. Thamrin meninggal dunia sedang (selagi, RS) perhatian umum tertuju pada dirinya. Dalam surat kabar ini sudah dikabarkan bahwa rumahnya atas perintah Hoofdparket (Kantor Intel, RS) telah digeladah berhubung dengan sebuah surat yang ditulisnya, surat mana berisi kata-kata yang dianggap menghina pemerintah (Hindia Belanda). Ia (Thamrin, RS) yang tadinya menjauhi untuk naik podium di muka rakyat, lalu rajin berpropaganda ke sana ke mari, pergi dengan giat dari rapat ke rapat. Dan untuk itu beliau tidak pernah meminta ongkos, tetapi dibayarnya dari kantung sendiri. Menurut kabar, kepada Parindra saja beliau memberi sokongan tidak kurang dari f 200,- (florijn atau perak, dua ratus perak, RS) saban bulannya.

Pertja Selatan, Palembang

Apa yang dikatakan Thamrin dikutip surat-surat kabar Amerika, Filipina, dan Jepang, malah Madame Tabouis wartawati Prancis yang paling disegani pernah juga menulis tentang Tuan Thamrin, Thamrin termasuk dalam lijst (daftar, RS) nama-nama pendekar-pendekarpercaturan politik internasional, tulis Madame Tabouis yang terkenal itu. Juga di kalangan tinggi luar negeri, almarhum mendapat perhatian. Presiden Filipina tertarik hatinya untuk berkenalan dengan almarhum, dalam suatu pertemuan yang diadakan ketika pembesar agung itu singgah kemari. Juga perhatian orang-orang Jepang terhadap beliau ada besar.

Kalau berpidato beliau tenang saja, tetapi ucapannya bernas, memaksa orang berpikir keras, kalau perlu pernyataannya tajam-tajam, ketangkasannya lebih ternyata di waktu debat. Karena itu orang berhati-hati benar dengan beliau.

Adakah M. Husni Thamrin korban pembunuhan yang Direncanakan?

Dari data-data yang diurai dalam bagian terdahulu, tentang sakit Husni dapat disimpulkan sebagai berikut.

Sampai dengan pertengahan Desember 1940 tidak diketahui dengan pasti apa sakit yang diderita M. Husni Thamrin. Diketahui ia kelelahan, mungkiri hal ini sering dikeluhkan Husni kepada kerabatnya sehingga pada akhirnya ia menyetujui saran kerabatnya untuk beristirahat. Husni memilih beristirahat di Langsa, Aceh. Perjalanan jauh tidak membuat kesehatannya pulih, melainkan memperparah. Apalagi sekembalinya dari Langsa, Husni mengunjungi Jogjakarta, diperkirakan, tanggal 27 sampai 30 Desember 1940. Perjalanan ke Langsa, via Medan ditempuhnya dengan kapal laut, dan Jogja dengan KA.

Sekembalinya dari Jogja, Husni langsung terlibat lagi dalam kegiatan rapat-rapat, dan pada rapat tanggal 4 atau 5 Januari 1941 di rumahnya Husni mengalami anvaal. Ia muntah-muntah. Baru di sini Dr. Kayadu menyimpulkan kemungkinan Husni menderita nierziekte, gangguan ginjal, dan kemungkinan komplikasi jantung.

Seharusnya Husni diperiksa intensive di CBZ, kini RSCM. Pada saat itu CBZ sudah memiliki fasilitas yang memurigkinkan untuk memeriksa penyakit Husni, bahkan fasilitas operasi pun sudah ada. Tetapi hal ini tak sempat dilakukan karena pada tanggal 4 Januari 1941 malam hari rumah kediaman Husni di Sawah Besar No. 32 digeladah, Husni dinyatakan sebagai tahanan rumah. Semua peluang pengobatan Husni secara profesional tertutup. Dr. Kayadu, atas izin polisi, menjenguk Husni untuk mengetahui perkembangan kesehatannya, dan sangat mungkin memberikan obat generik untuk mengurangi rasa nyerinya saja.

Kondisi kesehatan Husni yang memburuk sangat mungkin telah lama diketahui pihakPID, polisi rahasia Belanda. Karena itu mereka memberikan coup de grace, pukulan yang mematikan untuk menghancurkan mental Husni. Rumahnya digeladah, ia dinyatakan sebagai tahanan rumah, di rumahnya ditempatkan polisi untuk menjaga dan mengawasi Husni.

Pada dini hari kematian 11 Januari 1941 pukul 04.00 lebih sedikit Entong, jongos di rumah Husni, minta izin polisi penjaga untuk pergi ke rumah Siti Sarah di Drossaerweg. Jarak dari Sawah Besar No. 32 ke Drossaerweg No. 19 tidak sampai 400 meter. Memang mudah ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi lebih mudah lagi bila menggunakan pesawat telepon. Mengapa ini tidak dilakukan Si Entong? Karena PID telah memutuskan hubungan telepon di rumah Husni. Setidaknya sejak tanggal 5 Januari 1941. Terpaksa Entong tinggalkan Nyonya Thamrin dan putrinya di rumah duka.

Polisi Rahasia Belanda mempersempit peluang untuk penyelamatan nyawa Husni, bahkan ada kesan Belanda melakukan pembiaran agar Husni tewas karena penyakitnya. Suatu tanda tanya besar, mengapa Dr. Kayadu baru bisa datang menjenguk Husni pada Minggu malam yang kelabu itu pada pukul 02.30 dini hari? Artinya, tidak mudah bagi Dr. Kayadu mengakses Husni, karena dihalang-halangi Polisi Rahasia Belanda.

Jika benar Belanda melakukan pembiaran agar M. Husni Thamrin tewas, maka Belanda telah melakukan indirectly murder terhadap Husni. Pertanyaannya, mengapa Husni tidakdiberi kesempatan yang cukup untuk mengobati penyakitnya, bahkan diberikan perlakuan yang memperparah penyakitnya.

Apa pun alasan penggeledahan, tetapi itu sebuah pukulan yang mematikan, coup de grace, kepada Husni. Bukan karena Husni takut atau berani, tetapi persoalannya Husni berkedudukan sebagai Wakil Ketua Volksraad. Karenanya ketua Volksraad Mr. Jonkman menyebutnya sebagai pengrusakan hukum ketatanegaraan, karena penggeladahan diikuti dengan menahan Husni di rumahnya, artinya mencegahnya, seandainya dia sehat, untuk menghadiri sidang-sidang Volksraad, dan mencegahnya, bila sakit, untuk berobat ke rumah sakit. Mr. Jonkman menggunakan istilah kejahatan yang dinisbatkan pada perbuatan Polisi Rahasia.

Tuduhan bahwa penggeledahan itu untuk mencari sepucuk surat yang ditulis Husni (kepada siapa?) yang isinya antara lain menista pemerintah Hindia Belanda, sangat tidak masuk di akal, karena tidak ada surat pribadi yang salinannya diarsipkan. Karena orang tidak pernah membuat duplikat surat pribadi. Karena surat pribadi ditulis tangan.
Readmore → Tanggapan Media Tentang Muhammad Husni Thamrin

Pendekar Bangsa M. Husni Thamrin, Putera Betawi


Perjuangan M. Husni Thamrin dan Tragedi Kematiannya

Tanggal 11 Januari 2011 genap 70 tahun wafatnya Pahlawan Nasional Muhamad Husni bin Thamrin bin Thabri. Ia, meminjam istilah zaman itu, anak Betawi tulen.

Bagian ini ditulis berdasar pelbagai sumber yang tak banyak diketahui publik, antara lain Imam Soepardi, Kenang-kenangan dan Kematian M.H. Thamrin Bintang Pejambon, Poestaka Nasional, 1941, Surabaya.

Dalam gambar di halaman sebelumnya terlihat Husni (berdiri pada shaf belakang No. 3 dari kiri) masih sangat muda, diperkirakan berusia 20 tahun, namun sudah aktif dalam perkumpulan Batavia Berichtiar yang kelak menjadi cikal bakal organisasi Perkumpulan Kaum Betawi yang didirikan pada tahun 1923, mendapat rechtsperson, badan hukum, 1924. Tetapi organ, badan. Perkumpulan Kaum Betawi Tjahaya Betawi telah terbit sejak tahun 1923, yang kemudian berganti nama menjadi Berita Kaum Betawi.

Sudah seperti menjadi ketentuan Allah, Pitung tewas dibunuh Belanda tahun 1894, Muhammad Husni Thamrin lahir pada tahun yang sama: 1894. Tokoh perlawanan rakyat dari Tangerang Kalin Bapa Kayah tewas tahun 1924, Perkumpulan Kaum Betawi mendapat badan hukum pada tahun 1924 juga.

Mohammad Husni adalah anak ketiga dari pasangan Thamrin bin Thabri dengan Nurhamah. Beliau lahir di Betawi pada tanggal 16 Februari 1894. Thamrin bin Thabri adalah putra Wedana. Adapun Thabri, kakeknya adalah seorang jaksa. Jaksa Thabri tinggal di kawasan Kebon Sirih, jalan di mana rumahnya berlokasi dinamakan Gang Jaksa.
Thamrin memasuki sekolah level rendah Instituut Bosch, kemudian melanjutkan ke HBS (Hogere Burgerschool) yang paling terkenal di Batavia Koning Willem III di Salemba. Ketika di HBS, sambil bersekolah Husni magangdl kantor Patih Batavia, kemudian kantor residen Batavia. Pada tanggal 11 Mei 1914 Husni mulai bekerja di Hoofdkantoor, kantor pusat, perusahaan pelayaran terbesar di Hindia Belanda KPM afdeeling Boekhouding, bagian pembukuan.

Husni tak lama di KPM. Ia berhenti bekerja lalu bergiat dalam usaha perkebunan karet dan teh. Di samping itu sebagian besar perhatiannya dicurahkan pada dunia pergerakan. Husni bergabung dalam Batavia Berichtiar, diperkirakan tahun 1920. Perkumpulan ini kemudian menjadi inti Perkumpulan Kaum Betawi yang didirikan oleh Masserie. Husni, dan M. Thahir pernah menjadi Ketua Boedi Oetomo cabang Weltevreden. Husni menjadi Ketua pertama Perkumpulan Kaum Betawi. Sebelumnya, ketika untuk pertama kali dibentuk Gemeenteraad van Batavia, Dewan Kota, tahun 1919, Husni, atau dikenal dengan panggilan Bang Ni, terpilih sebagai salah seorang anggota mewakili orang-orang Betawi. Seorang anggota lain Gemeenteraad adalah Van der Zee, seorang Belanda yang sangat terpengaruh ide-ide sosialisme. Husni berkawan akrab dengan Van der Zee. Jalan pikiran dan keberpihakan Husni pada rakyat besar kemungkinan dipengaruhi Van der Zee.
Tidak diketahui sejak kapan Husni menjadi anggota Provinciale Raad van Preangers. Seperti diketahui, Batavia dalam sistem administrasi pemerintahan Hindia Belanda termasuk dalam Residensi Priangan.
Karier Husni menanjak terus. Pada tahun 1923 Husni diangkat sebagai Wethouder, pejabat hukum. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan Husni menjadi Loco Burgermeester Betawi, wakil walikota. Tetapi jabatan ini diketahui dipangkunya hingga bulan Juli 1930. Seraya dalam memangku jabatan Loco Burgermeester, Husni diangkat sebagai anggota Volkdsraad pada tanggal 10 Mei 1927. Ia menjadi anggota antar waktu menggantikan anggota yang meninggal dunia. Sampai dengan wafatnya, Husni menjadi anggota Volksraad selama empat periode. Periode terakhirnya Husni terpilih sebagai Wakil Ketua Volksraad sejak 15 Juni 1939 hingga akhir hayatnya.

Husni penggemar olahraga. Di masa sekolah ia menjadi anggota Daya Oepaya Sportsclub. Ini pula yang menggerakkan hatinya untuk menghibahkan tanahnya di Petojo menjadi lapangan sepakbola VIJ, Voetbalbond Indonesische Jacatra, cikal bakal Persija, pada tahun 1932. Olahraga yang paling digemarinya auto racing.

Husni juga menjadi anggota Stichting, yayasan, Indonesisch Studiefonds. Yayasan ini mendirikan Internaat Batavia yang terletak di Drossaerweg No.95. Husni ikut mendirikan asrama pelajar ini yang luas tanahnya lebih dari satu hektar. Kini asrama ini dipergunakan kepolisian.

Di samping itu, sebagaimana banyak diketahui Gedung Pertemuan yang terletak di 31. Kenari 11/15 adalah gedung yang dibeli Husni dari Mijnheer Haas, seorang pengusaha ternak potong. Gedung ini dihibahkan Husni untuk perjuangan.

Di bidang politik, Husni bergabung dalam Parindra, Partai Indonesia Raya, sejak partai ini didirikan pada tahun 1935. Di Parindra Husni mengepalai Departemen Urusan Politik.

Husni banyak membuat tulisan kolom tentang politik di surat-surat kabar, tetapi ia menggunakan nama samaran "Indonesia Raya". Husni mempunyai seorang istri dan seorang anak perempuan yang
merupakan kemenakannya yang diperlakukannya sebagai anaknya sendiri.

Bang Ni jatuh sakit
Husni adalah seorang pekerja keras. Ia tidak terlalu memikirkan waktu untuk beristirahat. Teman-teman seperjuangannya seperti Dr. Slamet Sudibyo seringkali menyarankan agar ia beristirahat. Tetapi ia selalu menolaknya. Nasehat sahabat-sahabat itu baru diindahkan Husni pada pertengahan Desember 1940. Ia tetirah ke Langsa, Aceh.

Husni tak lama bersitirahat di Priangan, kemudian pada tanggal 28 dan 29 Desember 1940 ia sudah berada di Jogjakarta menghadiri konferensi Parindra, dan menyampaikan pidato.
Sekembalinya dari Jogjakarta, diperkirakan tanggal 31 Desember 1940, Husni masih melakukan kegiatan rapat-rapat di rumahnya untuk persiapan perayaan HUT Parindra di Gedung Gg. Kenari. Rapat yang diadakan di rumahnya di Jl. Sawah Besar No. 32 ini diperkirakan berlangsung tanggal 4 atau 5 Januari 1941. Di dalam rapat inilah Husni sekonyong-konyong muntah-muntah dan panas badannya meninggi. Dr. Kayadu, yang selama ini merawatnya, dipanggil. Menurut keterangan, Husni menderita nierziekte, gangguan ginjal, dan komplikasi jantung.
Dalam keadaan Husni terbaring lemah di tempat tidurnya, pada malam hari Minggu tanggal 6 Januari 1941 Polisi rahasia Belanda datang ke rumahnya. Menggeladah. Ini amat memukul Muhammad Husni Thamrin. Bukan saja Polisi Kolonial itu menggeladah rumah Husni, malah menyatakan Husni sebagai tahanan rumah. Tidak boleh sembarang tamu menjenguknya. Rumahnya pun dijaga polisi. Husni yang dalam keadaan sakit berat, diasingkan di dalam rumahnya sendiri, dan hanya ditemani istri dan anaknya yang setia dan bujangnya bernama Entong. Bahkan Dr. Kayadu pun tidak boleh sembarang waktu mengunjunginya tanpa izin Polisi Belanda, sehingga dokter pejuang ini hanya sempat menitipkan pesan kepada si Entong:
Tong! Jangan tinggalkan Tuan. Pijit-pijitlah kakinya.
Tidak urung penggeladahan rumah Muhammad Husni Thamrin, yang kemudian membawa kewafatannya, menimbulkan prates di dalam

sidang Volksraad tanggal 7 Januari 1941. Tidak tanggung-tanggung prates itu disampaikan ketua Volksraad Mr. Jonkman dalam pidato pembukaan sidang,

Teman-teman anggota yang terhormat,
Pada permulaan sidang umum kita yang terdahulu, yaitu pada tanggal 10 hari bulan ini, saya telah memaklumkan tentang tidak berhadirnya seorang anggota kita yang terhormat Tuan Thamrin, dan permakluman saya itu terpaksa pula saya sudahi dengan perkataan, bahwa kedua alasan dari tidak hadirnya itu (1. berstatus tahanan rumah, 2. sakit, RS) telah melimpahkan bayangan yang tidak enak kepada pembukaan dari persidangan ini.
Ini kalimat sangat terpelajar. Lepas siapa pun yang mengucapkannya. Mr. Jonkman adalah salah satu tokoh penting yang menunggu kedatangan jenasah Husni di pemakaman Karet pada hari Sabtu tanggal 12 Januari 1941.

Pidato Terakhir M. Husni Thamrin
Dua minggu menjelang kewafatannya, M. Husni Thamrin pada tanggal 28 dan 29 Desember 1940 berada di Jogjakarta untuk menghadiri Konferensi Parindra. Ia menyampaikan pidato tanggal 29 Desember 1940. Pidatonya ini ternyata merupakan pidato terakhir seorang jempolan bangsa. Pidato Husni di bawah ini dikutip dari koran Berita Oemoem, Bandung, 31 Desember 1940, dengan ejaan yang disesuaikan.

Kini terasa kerusakan watak dan budi. Di dalam masa moreel dan geesti/ijke onrichting (kekacauan moral dan kejiwaan) ini. Kita harus beriman teguh dan berhati sentausa. Persatuan harus kita pegang teguh, perselisihan harus dijauhi.
Perselisihan dan critiek memang tidak dapat disingkiri. Tetapi kita tidak boleh menajamkan perselisihan itu dan melayani critiek yang hanya memecah belah persatuan kita.

Tetaplah percaya pada diri kita sendiri. Meskipun ada critiek (kritik) sesehat-sehatnya, kita harus tetap bersatu, kepercayaan kita jangan menjadi goncang.
Pula jangan berputus asa. Meskipun aksi Indonesia Berparlemen telah ditolak Violksraad, tetapi jangan berputus asa. Jalannya dunia berputar. Sejarah menunjukkan ini.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Aksi kita harus berdasar kepercayaan dan persatuan kita. Kita musti percaya, musti yakin, bahwa cita-cita kita kelak kemudian hari akan tercapai, jika kita tidak putus asa, dan bekerja terus. Memang tidak ada sesuatu cita-cita yang dapat tercapai seketika. Musti berangsur-angsur.
Buat bekal perjalanan kita di tahun depan, saya memajukan tiga
putusan:
Jangan putus asa
Jangan goncang kepercayaan
Bersatu dan berjalan terus
Saudara-saudara
Di dalam negeri kita mengalami Staat Oorlog van Beleg (SOB, negara dalam keadaan darurat perang) ini, kita harus berhati-hati dalam gerak-gerik kita.
Segala tindak harus dimasak dengan tenang sadar. Segala perkataan harus dijaga jangan sampai tersesat.
Dalam tahun 1939 saya berpesan agar Parindra dapat mencapai anggota 10.000. Dalam tahun 1940 itu la h zaman konsolidasi kita. Dalam tahun 1941 saya berpesan supaya Parindra dapat mencapai jumlah anggota 25.000.

Di mata Belanda, pidato Thamrin amat berbahaya: penggalangan kekuatan. Penggeladahan rumahnya kemudian, yang merupakan teka-teki sejarah apa motifnya, dari pidato ini jelas motif penggeladahan: intimidasi kepada Thamrin.

Penggeladahan, penetapan status sebagai tahanan rumah, pemutusan hubungan telpon, penjagaan polisi di rumah Husni, adalah sebuah operasi intelejen yang dirancang Belanda dengan matang dalam rangka "menyingkirkan" Bang Ni.

Sepak Terjang Bang Ni
Pada tahun 1907 Wedana Thamrin Thabri bersama wartawan bekend Tirto Adhisuryo mendirikan organisasi Sarekat Priyayi (SP).
SP merupakan cikal bakal Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri di Bogor pada tahun 1909. SDI kemudian pada tahun 1911 berganti nama menjadi Sarekat Islam.
Di kawasan tempat tinggalnya di Gg. Wedana, Thamrin Thabri mendirikan mesjid. Tak diketahui dengan pasti kapan berdirinya mesjid ini, tetapi pemugarannya yang pertama terjadi pada tahun 1926. Sejak itu mesjid diberi nama An Nur.
Masih dalam usia remaja, putra ke-3 Wedana Thamrin Thabri dengan mengayuh sepeda merek Simoplex pergi mengunjungi rumah-rumah orang politik seperti Van der Zee dan Douwes Dekker.
Sebagai anak Betawi, Bang Ni menaruh minat besar pada persoalan sosial yang menimpa orang Betawi. Misalnya saja masalah banjir. Ketika Bang Ni menjadi anggota Kies Vereeniging, ia mempersoalkan masalah banjir dan mengusulkan agar melebarkan kanal-kanal Ciliwung dan memperbanyak cabang-cabangnya.
M. Rochyani Su'ud yang lahir di Jakarta pada tanggal 1 November 1906 adalah wakil Pemuda Kaum Betawi dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II 27-28 Oktober 1928. Ia juga ikut menandatangani Sumpah Pemuda yang bersejarah itu. Rochyani menuliskan kenang-kenangannya tentang organisasi Pemuda Kaum Betawi,
Pemuda Kaum Betawididirikan pada permulaan tahun 1927oleh pemuda-pemuda Betawi yang merasa pada waktu itu terkebelakang dibanding pemuda-pemuda daerah lain. Pada saat itu juga pemuda kaum Betawi

mempunyai dasar kebangsaan, akan tetapi sudah tidak kedaerahan. Pemuda Betawi membuka pintu bagi semua pemuda Indonesia, bahkan di antara anggota pengurus ada yang bukan dinamakan Betawi asli. Bahasa yang digunakan dalam rapat-rapat ialah bahasa Indonesia. Karena memang sesuai dengan keadaan pada waktu itu. Pemuda Kaum Betawi setelah menerima undangan dari Panitia Kongres Pemuda II, dalam rapat anggotanya yang diadakan khusus bagi acara itu, memutuskan menyetujui diadakan Kongres Pemuda II, dan akan turut aktif.
Rochyani Su'ud yang pada waktu itu menjabatsekretarisditunjuk sebagai wakil Pemuda Kaum Betawi, guna duduk dalam Panitia Kongres Pemuda II.
Pemuda Kaum Betawi menganjurkan agar anggota-anggotanya yang telah dewasa bergabung dalam Perkumpulan Kaum Betawi. Rochyani Suud sendiri selanjutnya ditugaskan mendampingi M. Husni Thamrin dalam perjuangannya dalam Kaum Betawi dan badan-badan lainnya.

Gedung Gang Kenari

Tidak gampang pada zaman dulu mencari tempat untuk pertemuan pemuda. Para pemuda Jong Islamieten Bond sering menggunakan rumah Piatu Muslim di Gang Secang. Orang-orang Boedi Oetomo kadang-kadang menggunakan ruang kelas yang sedang tidak dipakai belajar. Keadaan ini menjadi beban pikiran Bang Ni.
Adalah sebuah rumah pemotongan hewan yang dibangun pada awal abad XX terletak di Gg. Kenari II No. 15 milik Mijnheer de Haas. Bang Ni tertarik membeli rumah tersebut guna dijadikan Balai Pertemuan. Menurut catatan Direktorat Agraria DKI Jakarta, bangunan dan tanah tersebut berasal dari perponding No. 14.720 berdasar surat ukur tanggal 13 Juli 1907 No. 236.
Tanah seluas 3600 meter persegi berikut bangunan di atasnya dibeli Bang Ni dengan surat hak tanah tertanggal 12 Maret 1929 No. 336. Bang Ni kemudian merombak bangunan bekas rumah potong hewan itu menjadi Balai Pertemuan.

Sebagai anggota Gementeraad, sepak terjang Bang Ni amat mengesankan kaum pergerakan. Pada tahun 1927 ada satu seat Volksraad yang kosong yang perlu diisi. Seat itu semula ditawarkan kepada HOS Tjokroaminoto, tetapi yang bersangkutan menolak. Gubernur De Graaf menawarkan kepada Dr. Soetomo, pun Dr. Soetomo menolak. Akhirnya dibentuk panitia pemilihan di bawah pimpinan Dr. Sardjito.
Panitia Sardjito memilih M. Husni Thamrin dan mengusulkan pilihannya itu kepada De Graafd, dan disetujui. Pada tanggal 16 Mei 1927 M. Husni Thamrin dilantik sebagai anggota Volksraad.

Pada tahun 1930 Thamrin ikut membentuk fraksi Nationaal Fractie di Volksraad bersama teman-temannya antara lain Koesoemo Oetojo, M. Soeangkoepon, Otto Iskandar Dinata, Dwidjosewojo, Datoek Kajo, Nyak Arief, Pangeran Ali, dan Mochtar Praboenagoro.

SepakterjangM. Husni Thamrin diVolkraad memang sangat mengesankan. Seperti diketahui Belanda mengeluarkan Koeli Ordonantie. Berdasarkan ordonantie itu Belanda mendatangkan pekerja kebun dari Jawa ke Sumatra Timur. Ternyata keadaan mereka amat menyedihkan. Berangkatlah Thamrin dan Koesoemo Oetojo selaku missi pencari fakta.

Laporan Thamrin di Volksraad menggegerkan pers Eropa dan dikutip secara luas oleh pers Amerika. Akibatnya, di Amerika timbul kampanye boikot Tembakau Deli.

Pada tahun 1938 Thamrin berpidato di Volksraad menjelaskan posisi fraksinya yaitu menuntut kemerdekaan Indonesia guna mencapai masyarakat Indonesia yang sempurna dan pemerintah yang sebaik-baiknya. Di dalam jubilium nummer (1908-1938) Indonesia terbitan Perhimpoenan Indonesia, Leiden-Nederland, M. Husni Thamrin menulis tentang Nationaal Fractie, antara lain:
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa Fraksi Nasional dalam Volksraad merupakan penggolongan politik yang harus diperhatikan. Dalam ayat 1 dan 2 Anggaran Dasar dinyatakan, Fraksi Nasional dalam Volksraad

bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia secepat mungkin, dan Fraksi Nasional mencapai tujuannya cara mendorong perubahan politik, menuntut penghapusan segala perbedaan politik, ekonomi, dan intelektual, serta menggunakan segala ikhtiaryang dipandang sah untuk maksud tersebut.

Pada tahun 1935, atas sokongan Boedi Oetomo, Thamrin terpilih lagi sebagai anggota Volksraad meakilio residensi Jawa Barat dimana Batavia termasuk. Pada tahun ini juga Boedi Oetomo, Persatoean Bangsa Indonesia, Perkoempulan Kaoem Betawi, Sarekat Celebes, Sarekat Soematera, Sarekat Ambon, dan Tirtayasa membentuk Partai Indonesia Raya, Parindra. Pada tahun 1939 Thamrin terpilih lagi sebagai angggota Volksraad, kali ini mewakili Parindra.

Thamrin bersama Dr. Ratulangi dan Mr. Syamsudin membentuk federasi GAPI, Gabungan Politik Indonesia yang beranggotakan tujuh partai politik.

Kok Tuan tidak lagi bersuara?
Pada bulan Februari 1940 Husni Thamrin berpidato di Cirebon dalam sebuah rapat umum yang diadakan Parindra. Situasi pada saat itu benar-benar peka karena pasukan Jerman di Eropa telah merangsek maju mencaplok negara-negara tetangganya. Bahkan pada akhirnya negeri Belanda sendiri ditelan pasukan Hitler. Pemerintah Kerajaan Belanda mengungsi ke Inggris.

Dalam pidatonya, Bang Ni kembali mengulangi tuntutan kaum pergerakan yaitu Indonesia oleh Belanda dinyatakannya sebagai surat. Padahal ini catatan yang tidak pernah disiarkan.
Husni Thamrin dikenakan tahanan rumah, sedangkan Douwes Dekker dipenjara.

Soekardjo Wirjopranoto sebagai anggota Volksraad mengajukan interpelasi berhubung dengan penahanan Thamrin. Dalam interpelasi itu Sukardjo meminta penjelasan perihal penggeladahan, pengawasan polisi, dan penahanan rumah atas diri Thamrin.

Drossaers, selaku pejabat Binnenlands Bestuur menjawab, Pemerintah menemukan sepucuk surat yang di dalamnya Tuan Thamrin mengkualifikasikan larinya pemerintah Kerajaan Belanda ke London sebagai memuakkan dan pengecut.

Drossaers juga menjelaskan tentang ditemukannya di rumah Thamrin laporan ekonomi yang ditulis Douwes Dekker atas permintaan Sato. Laporan mana menyebut perbuatan Belanda di daerah-daerah sebagai penindasan dan pemerasan.

Rumah di Jalan Sawah Besar No. 32 sudah beberapa hari sepi. Tempat penggergajian kayu A Hong yang terletak di seberang rumah itu tampak mengendur kegiatannya. Para kuli tak terdengar berteriak-teriak rambate rata hayu menurunkan log dari truk. Ustin, oplet, Senen-Kota, tidak mengetem depan rumah itu. Penumpang turun dan naik tidak di depan rumah tersebut. Pangkalan becak di perapatan Pecenongan juga sepi dari. tawa tukang-tukang becak yang menongkrong di tukang kopi dan kue pancong Mas Kemplu.

Betawi berduka, jagat Nusantara berduka. Semua orang, termasuk Ketua Volksraad Mr. Jonkman membicarakan penggeladahan rumah Husni Thamrin yang sedang sakit. Rumah di Sawah Besar itu sepi dari tamu, dari orang pergerakan, dari jago-jago Betawi, dari jempolan Parindra, karena mereka dilarang Belanda berkunjung ke tempat itu. Di rumah itu terbaring Husni yang hanya ditemani istri dan anaknya serta si Entong.

Kemis malam tanggal 10 Januari 1941 mendadak temperatur Husni meninggi. Nyonya Thamrin berusaha menghubungi Dr. Kayadu. Dr. Kayadu baru bisa datang dini hari pukul 02.30. Prosedur polisi memang berbelit-belit.
Dr Kayadu langsung masuk ke kamar Husni. Di situ ada si Entong yang langsung berdiri di tepi tempat tidur melihat kedatangan Dr. Kayadu. Nyonya Thamrin dan putrinya menangis terus-menerus di ruang tengah. Dr. Kayadu di kamar Husni hingga pukul 03.00. Ia lalu meninggalkan rumah di Sawah Besar No. 32.

Sepeninggal Dr. Kayadu, Entong duduk di tepi tempat tidur sambil memijit-mijit kaki Tuannya. Tiba-tiba Husni bangkit dari posisi rebah dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Entong melap busa itu dengan selampe. Husni kemudian mengeluarkan kata-kata yang tak dapat dimengerti Entong. Entong pergi ke ruang belakang menemui Nyonya dan putrinya yang sedang menangis.
Entong mengatakan dia mau buang hajat sebentar. Nyonya Thamrin dan putrinya masuk ke kamar dan memeluk suaminya. Tak lama Entong muncul. Nyonya Thamrin berkata pada Entong, Kok Tuan tidak lagi bersuara?

Semua bingung. Mereka tak tahu apa gerangan yang terjadi dengan diri Muhamad Husni Thamrin. Entong menatap Tuannya dengan cermat. Persis pukul 04.00 Entong memastikan bahwa Tuannya telah berpulang. Nyonya Thamrin dan putrinya menangis sejadi-jadinya di sebelah jenasah Thamrin. Entong dengan sigap meminta izin pada polisi Belanda yang menjaga rumah Thamrin bahwa ia akan pergi ke Drossaerweg (Asem Reges) menemui saudara Tuannya yang perempuan (Siti Sarah). Entong berpesan kepada tukang kebon agar menjaga rumah dengan baik.
Setibanya Entong di rumah Siti Sarah yang terletak di ujung timur Gang Arab terdengar suara terehim dari mesigit Gg. Wedana yang didirikan Wedana Thamrin bin Thabri. Ya arhama rahimiiin irhamnaaa....

Segera berita kewafatan pendekar bangsa Muhammad Husni Thamrin merambah jagat Nusantara. Radio Nirom ikut menyiarkan. Para pelayat ribuan datang ke rumah Thamrin. Polisi Belanda dengan dungu menyaksikan itu. Mereka tidak lagi melarang orang berkunjung ke rumah Husni yang sudah almarhum.

Muhamad Husni Thamrin wafat pada hari Jum'at tanggal 11 Januari 1941 pukul 04.00 dalam status sebagai tahanan rumah.

Telegram Bung Karno
Met Thamrin een onze grootsten heengegaan. Demikian bunyi kawat yang dikirim Ir. Soekarno dari tempat pembuangannya di Bengkulu.

Kalimat yang ringkas, puitis, dan penuh makna: Menyertai Thamrin, seorang besar kita yang berpulang.
Ini hanya satu dari lebih 300 kawatduka cita yang datang sampai dengan petang hari tanggal 11 Januari. Kawat-kawat itu datang dari pelosok tanah air dan dunia, antara lain Mesir dan Singapura. Pelajar Indonesia di Filipina mengirim kawat via Dr Ratulangi yang bunyinya, Deaths Thamrin irrepable loss. Extend condoleance bereaver family. Kewafatan Thamrin adalah kehilangan yang tak terhindarkan. Sampaikan duka cita kepada keluarga yang tabah.

Semula pihak keluarga merencanakan pemakaman Muhammad Husni Thamrin sore hari tanggal 11 Januari 1941, tetapi pihak Parindra meminta agar dapat ditunda keesokan harinya karena banyak tokoh Parindra dari luar kota yang menyatakan ingin menghadiri pemakaman.

Memang para pelayat membanjiri rumah duka. Bahkan dari Solo datang dengan mencharter autobus. Dr. A.K. Gani, Prof. Hussein Djajadiningrat, dan Mr. Sartono berada di antara sejumlah tokoh yang tampak di rumah duka. Tokoh muda Islam M. Natsir, yang kemudian hari menjadi Perdana Menteri RI, datang dari Bandung dan berada di kancah Harmoni bersama rakyat untuk melepas kepergian Muhammad Husni Thamrin.

Nyonya Thamrin menyambut para pelayat dengan mengatakan,

Saudara-saudara sekalian. Saya membilang diperbanyak terima kasih yang saudara-saudara telah memerlukan datang kemari darijauh untuk menunjukkan kecintaan saudara-saudara kepadaku dan terutama kepada suamiku yang sekarang sudah meninggal.

Jenasah diberangkatkan pukul 09.00 hari Sabtu tanggal 12 Januari 1941 dari rumah duka ke langgar Gg. Lere di dekat bioskop Alhambra untuk disembahyangkan. Setelah itu dibawa kembali ke depan rumah duka dan langsung dimasukkan ke dalam kereta jenazah. Jalan Sawah Besar penuh sesak. Lalu lintas berhenti total termasuk trem Lijn 3 dari Mester ke Kota. Semua organisasi kepanduan mendahului prosesi dengan membawa karangan bunga 70 buah banyaknya. Sesudah itu disusul kereta jenazah.

Di sepanjang jalan Sawah Besar, lalu Molenvliet Oost (Hayam Wuruk), Harmoni, Tenabang, sampai Karet berjubelan rakyat ingin melepas kepergian Muhammad Husni Thamrin. Di Karet sendiri tidak kurang dari 20.000 orang menghadiri pemakaman.

Jenazah almarhum "ditanam" bersebelahan dengan makam ayahnya Thamrin bin Thabri yang wafat pada tanggal 26 Mei 1923. Talqin dibacakan oleh Habib Ali Alhabsyi Kwitang.
Darjono yang mewakili PB Parindra, karena KA yang membawa Dr. Woerjaningrat dari Jawa terlambat masuk Batavia, dalam pidato kuburnya mengatakan,

Suara dan usaha saudara dalam gedung Volksraad, tetap menjadi buah kenangan rakyat. Dengan singkat, pekerjaan amal saudara di atas dunia akan kami peringati selama-lamanya, dan ada kepercayaan yang amal saudara itu menjadi tongkat dalam perjalanan saudara dalam mengunjungi Tuhan yang Mana Esa.

Dr. A.K. Gani dalam pidato kubur mengatakan,

Abang Thamrin, saya atas nama GAPI, Gabungan Partai Politik Indonesia, dengan ini menyatakan kata perpisahan. Suatu kejadian yang sedih kini terjadi berhubung dengan meninggalnya saudara. Sebagai anak Indonesia dan sebagai seorang Nasional, nama saudara akan tercantum dalam riwayat. Mudah-mudahan sepeninggal saudara, seperti dulu, sekarang, dan kemudian, semboyan patah tumbuh hilang berganti tetap ada pada kami. Dan Abang Thamrin, sebagai penutup saya sampaikan, sampai bertemu di akhirat nanti.

Readmore → Pendekar Bangsa M. Husni Thamrin, Putera Betawi

Sejarah Pemberontakan Petani dan Ratu Adil

Pemberontakan Petani dan Ratu Adil



Perkataan Ratu Adil sangat populer di kalangan rakyat. Sampai-sampai Kapten KNIL Raymond Westerling menyebut tentara pemberontak yang dipimpinnya pada tahun 1950 sebagai Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Konsep Ratu Adil berasal dari dunia pewayangan. Konsep ini menjanjikan harapan kepada rakyat tertindas bahwa suatu hari mereka akan terlepas dari belenggu kemiskinan bila datang Ratu Adil. Raja yang sangat adil yang memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat tanpa pilih kasih termasuk petani. Konsep Ratu Adil ada kemiripannya dengan konsep Imam Mahdi di kalangan Islam.

Bila kita hanya berpegang kepada anggapan bahwa pemberontakan petani karena dimotivasi oleh konsep Ratu Adil, niscaya kita tersesat dan mengabaikan faktor ideologi yang berada di balik pemberontakan petani. Sampai dengan pemberontakan petani abad XIX kita dapat menerima pandangan ini, tetapi pemberontakan awal abad XX sudah mempunyai motivasi ideologis. Pemberontakan petani Cimareme 1919 yang dipelopori Hasan adalah pemberontakan yang mempunyai warna ideologi Islam. Hassan adalah anggota Sarekat Islam Afdeling B, bawah tanah.
Tokoh-tokoh pemberontak termasuk Hassan ditangkap dan dihukum gantung di alun-alun Tegalega, Bandung.

Pemberontakan Silungkang, Sumatra Barat, 1926 juga bukan pemberontakan komunis. Tokoh pemberontak adalah Datuk Batuah. Menurut Hamka yang pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia, ada 3 orang murid terbaik dari madrasah Surau Jambatan Basi Minangkabau. Mereka adalah Karim Amarullah, kemudian jadi ulama Sunni penyebar Islam, Abu Bakar Ayub, dan Datuk Batuah.
Datuk Batuah memimpin gerakannya secara cerdas. Ia menerbitkan majalah yang diberi nama Jago Jago. Adapun pemberontakan yang dipimpinnya gagal dan dia sendiri dibuang ke Digul. Para pengikutnya menjadi urang talu, orang usiran.

Para penganjur pemberontakan petani di Jawa pada awal abad XX adalah tokoh Sarekat Islam antara lain Haji Misbach. Pada awal abad XX pemberontakan petani mendapatkan pengaruh dari Islam. Tetapi tak dapatdipastikan apakah semboyanyang amatterkenal dan menggetarkan Sama Rata Sama Rasa Sarekat Islam yang menciptakan atau kalangan lain.

Sasaran pemberontakan petani di beberapa tempat bukan sekedar menuntut perbaikan nasib petani, tetapi di Jawa Barat terdapat pemberontakan petani abad XX yang mempunyai sasaran sangat kongkrit yaitu menjadikan Haji Omar Said Tjokroaminoto sebagai Raja Jawa menggantikan Ratu Wilhelmina, sebagaimana diungkapkan oleh sejarahwan Sartono Kartodirdjo. Pihak kolonial sangat serius dengan masalah ini, bahkan menuduh HOS Tjokroaminoto menerima bantuan 2 juta gulden (mata uang Belanda) dari pihak asing untuk menyiapkan sebuah pemberontakan besar.
Pandangan bahwa pemberontakan petani dipicu oleh konsep tentang Ratu Adil tidak sepenuhnya benar. Terutama pemberontakan petani abad XX amat terkait dengan jaringan organisasi Sarekat Islam.
Readmore → Sejarah Pemberontakan Petani dan Ratu Adil

Sejarah Pemberontakan Tanah Tinggi Tangerang 1924

Pemberontakan Tanah Tinggi Tangerang 1924

Jembatan Pesing yang menghubungkan Batavia dengan Tangerang

Kalin Bapa Kayah bermakna Kalin bapaknya si Kayah. Kayah itu nama anaknya. Ia lahir di Kampung Pangkalan, Tangerang, pada menjelang akhir abad XIX. Di sekitar tahun kelahirannya itu tewas tokoh legenda si Pitung pada tahun 1896. Kisah Pitung yang diceritakan ayahnya mengantarkan Kalin ke ambang usia remaja. Pitung lahir di Cikoneng, Tangerang, tahun 1868, dari bapak asal Tangerang, dan ibu asal Rawa Belong, Batavia. Dapatlah dimengerti kalau tokoh Pitung menjadi konsep idola remaja kawasan Tangerang, Batavia, dan sekitarnya, termasuk Kalin yang mempunyai nama julukan Ji'ah.

Ketika beranjak remaja Kalin mulai menjadi petani penggarap. Ia tak lagi serumah dengan bapaknya. Ia menumpang di rumah kakak perempuannya. Kemudian hari kakaknya membuatkan rumah untuk Kalin.

Kian lama menjadi buruh tani kian sadarlah Kalin betapa menderitanya kehidupan kaum tani. Petani menderita karena beban pajak yang terlalu besar yang dipungut Kompeni, pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan para pemeras lainnya, baik itu pengijon maupun pemilik warung borong yang biasa membeli gabah kering dari petani. Kalin benar-benar tak kuasa bertahan hidup sebagai petani.

Walau Kalin menyadari salah satu sumber penderitaan petani adalah Demang, petugas pemungut pajak, dan pungutan lain, namun Kalin tak punya pilihan lain. Ia ingin memperbaiki nasibnya. Maka Kalin pun bekerja sebagai pembantu Demang. Demang sendiri memerlukan Kalin, karena Kalin ahli bermain pukulan (pencak silat), yang ia pelajari sejak kecil.

Pada akhirnya Kalin tak kuasa bertahan, dengan mata kepalanya sendiri tiap hari ia menyaksikan Demang memeras petani. Dengan sekehendak hatinya Demang meminta pajak gabah yang belum lagi dijemur. Demang pun masih bergentayangan di warung borong untuk memajak hasil penjualan gabah kering. Hanya tiga tahun Kalin bertahan sebagai pembantu pemungut pajak. Tapi dari pengalaman bekerja sebagai pembantu Demang ia berkenalan dengan seorang janda kaya Tionghoa.
Perkenalan ini mengantarkan Kalin ke jenjang pelaminan. Tetapi di dalam rumah mewah berarsitektur gaya Tionghoa di Tanah Tinggi Tangerang itu Kalin tidak betah, karena istri dan keluarga dari pihak istri terlibat dalam pemerasan petani. Akhirnya Kalin pun menyadari bahwa sang janda dulu memintanya menikah karena mengharapkan perlindungan Kalin atas harta bendanya yang berlimpah ruah itu.

Dalam usia sekitar 23 tahun, Kalin berpisah dengan istrinya. Ia merantau ke Jakarta. Persisnya di Kampung Jembatan Lima, Jakarta Barat. Ia memperdalam ilmu di pengajian Kampung Sawah, Jembatan Lima. Di sinilah Kalin terlibat dalam jaringan mantan pemberontak Condet 1916. Cakrawala pemberontakan makin merasuk ke dalam diri Kalin. Kalin diajarkan bahwa mereka yang memeras petani adalah orang asing. Orang asing harus diusir.

Kalin belajar ilmu tarekat. Perguruan Kampung Sawah Jembatan Lima merupakan bagian jaringan tarekat yang berpusat di Langgar Tinggi Gg. Kingkit IX Pecenongan, Jakarta Pusat. Pendiri tarekat Pecenongan adalah Guru Cit yang lahir pada permulaan abad XIX. Salah seorang murid Guru Cit adalah Guru Na'ipin yang merupakan guru si Pitung.

Di perguruan Kampung Sawah Kalin menjalankan puasa matigeni, puasa 40 hari, mematikan segala rasa, lapar, haus, sex, marah, senang, sedih. Kalin lalu memasuki tahapan yang paling berat yaitu kena'at, penyiksaan diri. Kalin selulup di kali Ciliwung. Ketika kepalanya muncul di permukaan air, segera disambut pukulan balok kayu oleh gurunya. Itu dilakukan berulang-ulang.

Selesai menjalankan riadhah, latihan, Kalin mulai "diisi" dengan belajar rapal-rapal, jampi. Setelah proses alih ilmu dianggap selesai, maka sejak saat itu Kalin harus mengenakan pakaian putih dan ikat kepala putih setiap harinya. Pada akhir pendidikan tarekat, Kalin masih harus menerima jenis ilmu yang lain yaitu menjadi dalang wayang kulit Betawi. Tampaknya pewayangan menjadi sarana memasyarakatkan ide-ide perjuangan.

Sekitar empat tahun Kalin menimba ilmu di Betawi. Ia kembali ke Tangerang. Dengan cepat Kalin menjadi dalang terkenal yang mempunyai banyak pengikut. Kalin menganjurkan kepada rakyat untuk tidak taat kepada Kompeni. Kalin melarang rakyat ikut serta dalam kompenian (kerja bakti) yang dianjurkan pemerintah Belanda. Lebih dari itu Kalin mencegah petani membayar pajak pada Demang, juga memberi uang kepada para pemeras petani. Kalin tidaksekedar omong, ia menggerakkan pengikutnya untuk melakukan penyiksaan kepada para pemeras baik itu pengijon, warung borong, lintah darat. Kalin dan pengikutnya dapat menyiksa sampai mati para pemeras petani itu kalau mereka tidak segera bersumpah untuk berhenti memeras petani.

Kalin Bapak Kayah menjadi sebuah nama yang membuat lutut para pemeras, Demang, asisten Wedana, bahkan jajaran Kompeni di Betawi bergetar. Kalin tak mudah ditaklukkan, bukan saja karena banyak pengikutnya, tetapi Kalin sangat dicintai petani dan rakyat pada umumnya. Tidak mudah menangkap Kalin.

Pada bulan Maret 1924, Kalin mengajak para pengikutnya melakukan arak-arakan, pawai, di kota Tangerang. Kalin mungkin merasa sudah mencapai kemenangan. Pawai yang disambut rakyat Tangerang itu dilaksanakan em pat hari berturut-turut.

Bukanlah kolonial namanya kalau tidak menyimpan akal licik. Perangkap dipersiapkan. Mata-mata Belanda melaporkan bahwa Kalin sering terlihat di kampung Mauk, Tangerang. Bertandang ke rumah kerabatnya yang menjadi asisten Wedana Mauk. Pada suatu hari Belanda menyuruh asisten Wedana Mauk berpura-pura mendukung gerakan Kalin jika Kalin datang bertandang. Buatlah Kalin berlama-lama bertamu agar cukup waktu buat Belanda mengerahkan serdadu dari Kamp Duri, Betawi.
Pada akhir bulan Maret 1924 Kalin bertandang ke rumah asisten Wedana Mauk. Kalin ditemani empat orang kepercayaannya. Kalin dijamu di serambi sambil minum teh.

Asisten : Bapa Kalin, saya setuju dengan gerakan Bapa. Pendeknya saya mendukung sepenuhnya dan siap bersama-sama Bapa menyembelih kaum pemeras petani.

Kalin    : Jadi,  Tuan  Asisten  dukung  saya  punya perjuangan.
Alhamdulillah. Kalau begitu rampung sudah obrolan kita. Saya minta permisi.

Asisten : Jangan pulang dulu Bapa Kalin, orang rumah sudah menyiapkan dahar. Kita dahar dulu di dalam. Rapi dahar terserah Bapa dah, apa mau pulang apa mau menginap, saya tidak keberatan.

Kalin    : Kok orang rumah pada tidak kelihatan.

Asisten : Iya, habis masak istri dan anak-anak saya ke Pasar Baru

Tangerang. Katanya ada yang mau dibeli. Ayu dah dahar, Maaf ya saya tidak bisa menemani dahar. Saya baru saja dahar sebelum Bapak ke sini. Dahar dah tidak usah malu-malu.

Kalin dan empat pembantunya makan siang di ruang dalam. Tuan Asisten sibuk mundar-mandir keluar masuk ruang dalam. Kemudian beberapa menit Tuan Asis ten tidak muncul. Tiba-tiba muncul puluhan serdadu Belanda yang langsung mengguyur ratusan peluru ke arah Kalin dan empat orang pembantunya yang sedang santap siang.

Kalin Bapak Kayah berpulang. Berakhir pula sepenggal sejarah per-lawanan kaum tani di Tangerang.
Beriringan dengan ditumpasnya pemberontakan Kalin Bapak Kayah pada tahun 1924, di Batavia muncul model pergerakan baru yang tidak menggunakan senjata tajam, tetapi pikiran yang cerdas. Perjuangan kemerdekaan ini di Jakarta dipelopori antara lain oleh putera Betawi M. Husni Thamrin yang memimpin Perkumpulan Kaum Betawi. Perkumpulan ini mendapat pengakuan hukum oleh pemerintah Belanda pada tahun 1924.

Husni Thamrin adalah tokoh Nasional asal Betawi yang berjuang tidak saja dengan kecerdasannya tetapi juga dengan hartanya.
Readmore → Sejarah Pemberontakan Tanah Tinggi Tangerang 1924

Sunday, August 26, 2018

Penjajahan Belanda dan Perlawanan Rakyat Jakarta

Penjajahan Belanda dan Perlawanan Rakyat Jakarta

Demang adalah kaki tangan Belanda yang menindas petani Betawi

Penjajahan Belanda dimulai pada tanggal 30 Mei 1619 ketika mereka berhasil menaklukkan penguasa Jayakerta dengan mudah. Sejak itu penjajahan di Jakarta dimulai yang kemudian meluas hingga seluruh Indonesia.

Kehidupan rakyat, khususnya para petani, sangat menderita di zaman penjajahan itu. Rakyat dikenakan pelbagai pajeg, pajak, dan cukai, cuke, atas hasil keringatnya di sawah dan ladang. Akhirnya perlawanan rakyat Jakarta tak dapat dibendung lagi. Timbullah pemberontakan petani di Jakarta dan sekitarnya.

Sebenarnya pemberontakan petani abad XIX dan awal abad XX berlangsung di seluruh Jawa. Belanda sangat kewalahan menghadapi perlawanan petani yang tertindas.

Pemberontakan Petani Tambun 1869

Pemberontak Tambun sedang menjalani hukum gantung pada tahun 1870


Rama, kelahiran Ratu Jaya Depok, mengaku dirinya Pangeran Ali Basah. Pengakuan ini sangat mungkin benar. Karena di Ratu Jaya Depok terdapat makam Ratu Kiranawati, istri Prabu Surawisesa, Pajajaran (1521-1535).

Sepeninggal suaminya, Ratu Kiranawati hijrah ke Depok. Kampung di mana ia bermukim diberi nama Ratu Jaya. Pengakuan Rama bahwa ia seorang pangeran benar adanya, dan ini berarti ia keturunan Ratu Kiranawati.

Rama mengajarkan ilmu bela diri, dan sangat mungkin ia juga seorang guru kebatinan. Pengaruh Rama menyebar mulai dari Bogor, Parung, Batavia, Cibarusa, Tambun, Tegal Waru, dan Depok sendiri. Murid-muridnya banyak. Mereka adalah petani.

Rama mengajarkan bahwa tanah yang berbatas antara kali Sadane (barat) dan kali Tarum (timur) adalah "tanah kita". Karena itu kita harus rebut dari tangan Tuan Tanah Belanda. Konsep geografi yang diutarakan Rama sebenarnya wilayah Nusa Kalapa (nama wilayah Jakarta dulu berdasarkan peta Pangeran Panembong abad XVI). Pengetahuan ini mustahil dimengerti Rama jikalau ia bukan keturunan Ratu Kiranawati. Informasi ini merupakan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya hingga Rama. Rama yang tergugat untuk merebut kembali tanah nenek moyangnya dulu. Rama menganjurkan pengikutnya untuk berontak melawan Belanda.

Motivasi pemberontakan yang dipimpin Rama terencana dengan jelas, yaitu membebaskan tanah warisan leluhur dari penguasaan Belanda. Mungkin tidak ada pemberontakan-pemberontakan petani yang motivasinya sejelas Rama.

Sasaran pemberontakan adalah kantor Assisten Residen Meester Cornelis di Tambun. Adapun kantor Residen sendiri terletak di depan Stasion KA Jatinegara. Wilayah Tambun dan sejumlah wilayah lain yang diclaim Rama, termasuk residensi Meester Cornelis.

Pilihan Rama tepat, karena penjagaan di kantor Residen lebih ketat daripada di Tambun. Di samping itu pengikut Rama lebih banyak di Tambun dan sekitarnya daripada di Jatinegara.

Pada bulan Maret 1869 Rama merayakan pesta perkawinan putrinya. Tamu-tamunya datang dari segala pelosok. Pada kesempatan itu Rama mengumumkan bahwa pada tanggal dua bulan haji (Zulhijjah) akan terjadi gerhana matahari. Itu bertepatan dengan tanggal 3 April 1869. "Pada malem gerhana kita kudu serang Belanda, lantaran ia kagak ngeliat".

Dengan 300 orang pengikutnya Rama menyerang kantor Asisten Residen Meester Cornelis di Tambun tanggal 3 April 1869. Asisten Residen dan 7 orang pegawai dan pengawal tewas seketika.
Rama dan pembantu terdekatnya menghilang. Pada tanggal 17 Juni 1869 Rama dengan 23 orang pengikutnya tertangkap. Rama dan dua orang pengikutnya dieksekusi di tempat. Sedangkan yang 21 orang diproses di landraad Meester Cornelis, pengadilan Jatinegara.

Semua petani pemberontak yang 21 orang itu dijatuhi hukuman mati gantung kepala. Pada bulan Agustus 1869 eksekusi dilaksanakan di lapangan militer Jatinegara, sekarang lapangan Jenderal Urip Sumohardjo.

Proses pelaksanaan eksekusi dilakukan bergelombang dan disaksikan khalayak ramai. Gelombang pertama, 9 orang digantung. Yang belum digantung sebanyak 12 orang ikut menyaksikan penggantungan itu dengan kaki dan tangan dirantai.

Tiba-tiba seusai pelaksanaan penggantungan yang 9 orang, kepala algojo mengumumkan bahwa yang 12 orang urung digantung. Residen dengan berkuda datang ke lapangan eksekusi menyatakan 12 orang yang tersisa itu dikenakan hukuman kerja paksa selama 15 tahun.

Ini menimbulkan teka-teki. Kemungkinan besar, ketika proses eksekusi sedang dilaksanakan datang pemberitahuan melalui telegraaf dari Kerajaan Belanda bahwa hukuman mati itu harus dibatalkan. Tetapi sudah terlanjur dilaksanakan pada 9 orang.

Pada saat itu di Belanda mulai muncul benih-benih emansipasi, yaitu tuntutan agar pemerintah kolonial Belanda menyamakan (emansipasi) perlakuan antara rakyat jajahan dengan rakyat Belanda. Tuntutan ini pengaruh dari Prancis yang pernah menjajah Belanda.

Tetapi tuntutan ini kalah pengaruhnya dengan semangat kolonialisme Kerajaan Belanda dan pegawai-pegawainya di tanah jajahan. Dalam menghadapi pemberontakan mereka bersikap membunuh pelakunya di tempat, tanpa harus dibawa ke landraad. Ini dilakukannya dalam menghadapi pemberontakan Condet tahun 1916, Kalin Bapa Kayah tahun 1924, dan sebelumnya pemberontakan tunggal si Pitung tahun 1894.

Mereka yang terpengaruh pada gagasan emansipasi hanya sekelompok kecil intelektual seperti Snouck Hurgronye.

Pemberontakan petani Tambun 1869 mematahkan mitos bahwa rakyat kecil itu bersikap nrimo, menerima apa saja perlakuan terhadap dirinya walau seburuk apa pun. Ternyata mitos itu tidak benar. Pada saatnya rakyat kecil berbicara dengan bahasanya sendiri.

Pemberontakan Petani Ciomas 20 Mei 1886


Ini adalah pemberontakan yang terjadi di luar wilayah budaya Betawi tetapi sangat erat dengan Betawi karena pemberontakan ini kelak mengilhami pemberontakan petani berikutnya termasuk di Jakarta.
Sampai dengan tahun 1915 sekitar 1.2 juta hektar tanah perkebunan/ persawahan dijual Pemerintah Hindia Belanda kepada pihak swasta. Tanah itu berstatus tanah partikulir yang pemiliknya bangsa Belanda, Eropa, dan Cina.

Petani adalah buruh tani. Mereka menerima upah per hari 12,5 cent bekerja di kebun atau di sawah. Setiap 5 pikul produksi yang dihasilkan seorang petani, petani itu menerima 1 pikul. Bagi hasil ini dinamakan cuke, dari mana berasal kata cukai. Penghasilan per tahun petani masih lagi dikenakan pajeg, dari mana berasal kata pajak. Di samping itu petani setiap bulannya selama lima hari dinyatakan bekerja kompenian, artinya tanpa upah.

Untuk pengaturan cuke, kompenian, dan pemungutan pajeg, Tuan Tanah memelihara demang dan pencalang yang dipersenjatai tombak. Demang dan para pencalang sebagai pembantunya bertingkah laku kejam terhadap para petani.

Ini derita para petani yang bekerja di Tanah Partikulir, termasuk petani Ciomas, di kaki Gunung Salak, Bogor, di tanah milik Tuan de Sturler. Kekejaman kakitangan Tuan Tanah seringkali dilindungi oleh birokrasi Pemerintah Hindia Belanda, terutama Camat. Camat berkolaborasi dengan Demang dan Pencalang memeras kaum tani, dan menyiksa mereka bilamana perlu.
Daerah Ciomas yang dingin itu tiba-tiba pada bulan Februari 1886 memanas. Camat Ciomas Haji Abdurrahim terbunuh. Apan, tersangka pembunuh, dan sejumlah petani lainnya yang terlibat, melarikan diri ke Pasir Paok. Mereka menolak menyerahkan diri.

Sebulan sebelum terbunuhnya Camat Haji Abdurrahim, Idris, seorang tokoh petani kelahiran Ciomas, diberitakan menghilang. Ia bergerak di sekitar Gunung Salak dan berpindah-pindah tempat. Bahkan diketahui Idris pernah berada di Sukabumi dan Tjiampea.

Tidak terdapat catatan yang cukup tentang bagaimana Idris mengorganisasikan perlawanan petani Ciomas terhadap Tuan Tanah. Juga tidak terdapat laporan bahwa Idris berguru pada ahli spiritual, atau Idris menjalankan tarekat. Gerakan Idris sangat rahasia sehingga tak tercium oleh spion-spion Belanda.
Pemberontakan petani Ciomas 1886 hampir berdekatan waktunya dengan pemberontakan berikutnya di Cilegon 1888. Secara teori sangat mungkin pemberontakan Ciomas dan Cilegon didalangi oleh otak yang sama.

Pemberontakan-pemberontakan petani, termasuk di Ciomas, ternyata bukan disulut oleh penderitaan akibat penindasan oleh kakitangan Tuan Tanah dan birokrasi Pemerintah Hindia Belanda belaka, tetapi ada idealisme di balik itu.

Idris mencari peluang yang bagus untuk membantai kakitangan Tuan Tanah. Peluang itu diperolehnya. Idris mendapat informasi bahwa pada malam Jumat tanggal 20 Mei 1886 pegawai dan kakitangan Tuan Tanah Partikulir Ciomas akan melakukan upacara sedekah bumi bertempat di rumah istirahat Tuan Tanah di Gadog. Upacara ini untuk berterima kasih kepada Yang Kuasa karena hasil panenan berhasil bagus. Biasanya dalam upacara sedekah bumi dilakukan makan besar. Seluruh pengunjung dijamu makan yang enak-enak, dan tak ketinggalan hiburan. Biasanya dalam acara menikmati hiburan itu tuan rumah menyediakan minuman keras.

Pada malam Kemis tanggal 19 Mei 1886 Idris dan pengikutnya merebut dan menduduki kawasan selatan Ciomas. Idris tidak melebarkan kawasan pendudukannya. Tempat ini sekedar batu loncatan saja baginya untuk menyerbu rumah Tuan Tanah di Gadog.

Benarlah pada malam Jumat 20 Mei 1886 Idris dan sejumlah pengikutnya menyerbu pesta pora yang tengah berlangsung di rumah istirahat Tuan Tanah di Gadog. Tidak kurang dari 41 kakitangan Tuan Tanah tewas seketika, dan 70 orang luka-luka. Arena pesta dibanjiri darah. Musik dan penari bubar, dan lari menyelamatkan diri masing-masing. Pengikut-pengikut Idris berteriak-teriak, "Patahkan batang leher Tuan Tanah", seraya memburu korban-korbannya. Tetapi sasaran utama yang dicarinya Tuan Tanah de Sturler, dan keluarganya, tidak tampak. Mereka berhasil menyelamatkan diri.

Seperti halnya Apan, Idris pun menghilang dari Ciomas. Sangat mungkin Idris dan Apan bergabung dengan Haji Wasit, Cilegon, yang tengah mempersiapkan pemberontakan petani tahun 1888.

Pemberontakan Condet 1916

Berdasarkan naskah Carlos Parahiyangan, diketahui bahwa kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan, Bogor, di masa Prabu Siliwangi (1482-1521) memiliki tentara reguler sebanyak 100.000 orang. Penduduk Pakuan sendiri hanya 50.000 orang. Hampir sama dengan jumlah penduduk Nusa Kalapa (Jakarta).

Bagaimanakah Prabu Siliwangi membiayai tentaranya yang sebanyak itu? Dari hasil pertanian. Kerajaan menyediakan areal tanah garapan. Kepemilikan tanah hanya pada kerajaan. Tidak ada hak milik pribadi. Kerajaan menyediakan infrastruktur, prasarana, seperti parlgl (irigasi) dan pencetakan sawah.
Penggarapan tanah Raja dengan prinsip bagi hasil. Setiap empat gedeng padi, ikat, petani mengambil satu gedeng. Jika perolehan petani berlebih, maka padinya itu dapat dijual pada kerajaan. Prinsip yang sama juga dikenakan pada lada. Untuk setiap empat bahar lada, petani mendapat satu bahar. Prinsip bagi hasil 4-1 juga diberlakukan dalam pengolahan gabah menjadi beras.

Seluruh hasil tanah dan kebun, yang menjadi milik Raja, dikumpulkan di Warung Borong (yang berfungsi semacam Bulog). Saudagar-saudagar lada dan beras, yang datang dari mancanegara pergi ke Warung Borong untuk mendapatkan komoditas pertanian.

Ketika datang penjajahan Belanda (1619) untuk kurun waktu satu abad lamanya status tanah mengalami transisi. Dalam masa itu tanah merupakan "milik penggarap", karena kerajaan-kerajaan sudah tidak berdaulat lagi. Pada permulaan abad XVIII, Belanda mengeluarkan peraturan tentang tanah Partikulir. Dengan peraturan ini secara diam-diam Belanda menganggap bahwa tanah bekas milik kerajaan itu tanah mereka. Ordonansi Tanah Partikulir, peraturan kepemilikan tanah, berisi hak memiliki tanah bagi pengusaha asing dan lokal dengan luas tak terbatas asal membayar sejumlah uang.

Ordonansi Tanah Partikulir telah menyulut perlawanan para petani di seluruh Tanah Jawa. Tidak terkecuali di Batavia, Jakarta, dan sekitarnya. Perlawanan itu bermula pada pertengahan abad XIX seiring dengan meluasnya tanah yang dibebaskan oleh tuan-tuan tanah. Tuan tanah mengenakan peraturan seenaknya kepada para petani. Petani itu sendiri merasa tanah yang digarapnya adalah miliknya sejak berakhirnya masa kerajaan.

Lady Rollinson adalah perempuan bangsawan Inggrisyang memiliki tanah yang amat luas di Cililitan Besar, Jakarta Timur. Condet, Tanjung Barat, dan Tanjung Timur termasuk Cililitan Besar. Lady Rollinson memiliki tanah Cililitan Besar sejak tahun 1915. Ia amat kaya. Ia memiliki rumah gedung di Tanjung Barat. Rumah ini terbakar pada tahun 1980-an. Sejak itu, rumah yang tergolong peninggalan sejarah itu tidak pernah dipugar lagi dan dibiarkan menjadi puing-puing.
Di rumah inilah, yang oleh orang Betawi disebut gedong, Lady Rollinson setiap malam Minggu menjamu tamu-tamunya dengan pesta pora. Sementara itu petani Condet dan sekitarnya hidup kian menderita. Sewa tanah garapan makin ditingkatkan. Para demang sebagai pengutip sewa dan pajeg berlaku amat kejam kepada petani.

Muncullah tokoh lokal yang bernama Haji Entong Gendut. Tong Gendut, begitu ia biasa dipanggil, mengumpulkan pengikut-pengikutnya. Tong Gendut menjelaskan bahwa tanah ini milik leluhur, kenapa kita harus membayar sewa kepada orang Inggris.

Pada suatu malam Minggu di tahun 1916 Tong Gendut dengan sejumlah pengikutnya mengepung rumah Lady Rollinson yang sedang berpesta pora. Di depan rumah Lady Rollinson itu Tong Gendut berseru bahwa orang-orang yang sedang berpesta itu yang menjadi sebab kesengsaraan hidup orang Condet. Tong Gendut memerintahkan pengikutnya menyerbu pesta sambil berseru, "Sabilullah gua kagak takut". Pesta bubar.

Keesokan harinya polisi opasyang tidak bersenjataapi, dengan kekuatan 12 orang mengepung rumah Tong Gendut. Tong Gendut sudah menyiapkan perlawanan. Karena kepungan polisi itu sudah diperhitungkannya. Perlawanan pun terjadi. Tong Gendut dan pengikutnya mengamuk. Empat orang polisi tewas ditebas batang lehernya dengan golok Betawi.

Keesokan harinya di pagi hari serdadu Belanda dengan kekuatan satu kompi mengurung daerah Condet dan sekitarnya. Rumah Tong Gendut terkepung. Dengan golok yang masih berlumur darah Tong Gendut keluar rumah. Satu regu serdadu yang mendekatinya diterjang sambil berseru, "Sabilullah gua kagak takut". Golok Tong Gendut mengayun di udara, disambut puluhan butir peluru yang menyalak dari laras senapan, Tong Gendut rebah dalam perlawanan.
Readmore → Penjajahan Belanda dan Perlawanan Rakyat Jakarta

Humor Betawi

Orang Betawi umumnya menyukai humor, tetapi tidaklah berarti dari rahim Betawi tidak muncul tokoh-tokoh serius. Ambil misal Syekh Junaid al Batawi, beliau tokoh Islam paling terkemuka di abad XIX karena dipercaya menjadi Imam Masjid al Haraam dan mengajar di serambinya. Begitu juga dengan sejumlah nama-nama besar ulama, antara lain Guru Mansur, Guru Mugeni, Guru Mujtaba.

Humor adalah bagian dari kehidupan orang Betawi. Memisahkan orang Betawi dari humor seperti memisahkan gula dari manisnya, garam dari asinnya. Humor bukan gejala psikologis, tetapi fenomena sosiologi sebuah komunitas yang hidup dalam dinamika kota besar selama ratusan tahun sejak Kalapa difungsikan sebagai pelabuhan samudera oleh Kerajaan Sunda di abad XII M.
Mamat   : Ade ape, Din, di gang sebele, kok kedengerannye rame bener.
Udin     : Mating ketangkep. Mamat  : Abis gitu?

Udin    : Ude deh kepalenye ga muat pici. Mamat : Ga muat pici pigimane?
Udin     : Pan pade benjol tu kepale dipukulin orang. Mane ade lagi pici nyang pas di kepale die....




Pada tahun 1930 sampai dengan tahun 2000 di Jakarta banyak ahli-ahli humor Betawi yang menjadi penghibur dalam perayaan-perayaan yang diadakan penduduk. Seorang di antaranya bernama Haji Ja'it. Jenis kesenian ini disebut Sahibul Hikayat.

Sebuah kisah Sahibul Hikayat Haji Ja'it pada tahun-tahun 1960-an menggambarkan secara satyristic proses pelimpahan kekuasaan. Ja'it mengisahkan tukang kacang yang promosi sebagai raja.
Alkisah tersebutlah Maharaja Samsul Mulukyang berkuasa di benua negeri Azraki. Maharaja mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Mayang Murni. Menurut bujangga yang empunya cerita Mayang Murni jatuh sakit. Segala macam tabib didatangkan dari negeri seberang, tetapi penyakit Tuan Putri tidaklah sembuh. Raja menitahkan kepada Perdana Menteri untuk keluarkan maklumat sayembara. Maka Perdana Menteri dengan diiringi hulubalang dan bunyi-bunyian kemong berkeliling benua negeri Azraki menyampaikan maklumat. Begini bunyinya:

Ma'lumat. Kepada penduduk benua negeri Azraki diumumken. Barang siapa dapetsembuhken Tuan Puteri daripenyakitnya sigra akan dikawinken dengan Tuan Puteri Mayang Murni berikut menjadi ahli waris kerajaan. (Orang pada besurak denger tu ma'lumat)
Perdana Menteri melanjutkan: Tunggu dulu jangan surak dulu. Tapi siapa yang gagal sembuhken Tuan Puteri Mayang Murni dia aken digantung di alun-alun dan sebelonnye aken dikenaken hukum picis, atau diiris-iris lengannya dan diperah jeruk limau, pada yang bersangkutan. Sekean maklumat dari kerajaan.

(Penonton pade ngedumel. Mendingan saye kaga jadi mantu raje deh dari pade diukum picis. Siape yang mau)

Sehari menjadi seminggu, seminggu menjadi sebulan, tidak ada orang yang mendaftar menjadi peserta sayembara. Sebulan lewat sehari datanglah seorang tukang kacang dengan pikulannya ke kerajaan. Hulubalang menghalau. Tukang kacang menjelaskan maksudnya yang ia mau ikut sayembara. Perdana Menteri perintahkan hulubalang agar tukang kacang dibolehkan masuk.

Maharaja : Hey tukang kacang, nekad amat kamu mau mengobati kepada saya punya anak, apa tidak takut kalau kamu gagal? Kamu bakal kena ukum picis kemudian algojo kami orang akan gantung kamu punya kepala di alun-alun?

Tukang kacang : Daulat Tuanku. Ke bawah duli tuanku. Hamba tidak takut. Daripada idup hamba susah begini yang ujung-ujungnya mati juga sebagei tukang kacang, mendingan ketauan dah hamba mati gara-gara gagal ngobatin Tuan Puteri.

Di pojokan istana, Perdana Menteri kasih kode sama algojo: Algojo, makanan ente tuh bakalannye, mana bisa dia ngobatin. Segala tukang kacang.

Algojo : Hamba siap gantung dia punya kepala. Tangan hamba
sudah gatal, Tuan.

Kata bujangga yang empunya cerita, seharian tukang kacang ngobatin Tuan Puteri dan berhasil dengan gemilang.

Mayang Murni : Ayahanda, ibunda, anakenda sudah sembuh. Anakenda punya napsu makan timbul lagi. Tulungin dong beliken soto kikil sama pepes ikan teri. Anakenda sudah kangen deh.

Maharaja  : Baek. Puteriku ciumlah tangan ibumu. Tuan Puteri mencium tangan permaisuri.
Permaisuri : Anakku Mayang, jangan kata soto kikil sepiring, sepikul juga ibunda bisa beli'in.
Keluarga raja anak beranak itu bukan main girangnya. Di tengah kegirangan mereka, masuklah Perdana Menteri bersama tukang kacang. Maharaja mempersilakan mereka duduk di dekat keluarga raja.
Maharaja : Hey Perdana Menteri. Kasihlah maklumat bahwa anakku sudah sembuh dan sesuai dengan perjanjian yang sudah aku sampaikan, tukang kacang ini telah menjadi jodoh kepada anakku. Aku pegang perjanjian. Anakku sudah sembuh.

Mayang Murni  : Ayahanda ...

Maharaja : Anakku Mayang, sudahlah, ini keputusan telah ayah ambil di kutika kamu sakit, tidak inget orang. Temuilah calon suamimu itu.

Mayang Murni

Ogah ayah, sum dia mandi dulu dong, abis badannya bau.

Permaisuri : (kepada tukang kacang) Mantu mandi deh, kamar mandinya di mana nanti bakal ditunjukin sama dayang-dayang.

Mayang Murni  : Ibunda, sum dia gosok gigi juga dong.

Permaisuri : Mayang, sudahlah Nak. (kepada dayang) Eh dayang-dayang, odol yang kemarin aku sum beli kasih sama calon mantuku ini.

Dikisahkan Perdana Menteri menyampeiken maklumat di alun-alun: Wahai penduduk benua negeri Azraki. Sayembara sudah habis, Tuan Puteri telah dapat disembuhken. Penyakitnya sudah diangkat Yang Kuasa. Pemenang sayembara adalah tukang kacang. Sekean.

Rakyat terbahak-bahak. Malah ada yang nyanyi bareng, rasain lu rasain. Tidak henti-hentinya rakyat di seluruh benua negeri Azraki membicaraken halnya Maharaja yang amat berkuasa itu lagi pula lalim bermenantukan tukang kacang.
Sampai jauh malam, tidak perempuan tidak lelaki, pada ketawa terbahak-bahak membicarakan nasib raja yang sombong yang telah menolak banyak lamaran pangeran yang cakep-cakep dari negeri seberang.

Suasana negeri Azraki jadi panas. Hulubalang dan punggawa kerajaan tak tahan mendengar sindiran bahwa Raja Azraki nantinya tukang kacang. Orang pada membahas apakah sesudah jadi raja, sang maharaja baru akan berjualan kacang, atau berhenti dagang. Ada lagi yang mengejek, ia usul agar pikulan tukang kacang ditaro di alun-alun sebagai simbol kerajaan.

Sejak hari itu mendengar orang menyebut tukang kacang saja sudah terbahak-bahak. Hari esoknya cukup bilang kacang, orang sudah terpingkal-pingkal.

Keadaan negeri yang bergoncang oleh issue tukang kacang dibahas oleh Maharaja, Perdana Menteri, dan segenap al Wazir. Akhirnya diputuskan barangsiapa kedapatan mengucapkan kata kacang akan dihukum gantung dengan kepala di bawah, sampe mati. Ini dianggap telah menghina kepada martabat kerajaan dan benua negeri Azraki.

Rakyat menyesuaikan diri dengan peraturan yang berlaku. Tidak ada yang berani mengucapkan perkataan kacang melainkan dengan sandi. Tukang bubur kacang ijo bilang ia berjualan bubur a'ang ijo. Di pasar-pasar juga begitu. Orang yang mau beli kacang cukup memperlihatkan kelingkingnya saja, tukang sayur sudah paham. Tukang kacang rebus keliling berdiam diri tidak berani menyebut dagangannya.

Di sebuah tikungan jalan, berkumpullah beberapa anak muda yang iseng. Mereka mempunyai rencana jahat menjebak tukang kacang. Dari jauh sudah terlihat tukang kacang rebus memikul dagangannya tanpa bersuara seperti lazimnya.

Anak Muda I    : Bang jualan ape?
Tukang kacang cuma menunjuk dagangannya saja.
Anak Muda II : Jangan cuman nunjuk-nunjuk doangan dong, di situ emang dagang apa'an sih?
Tukang Kacang : Lihat aje sendiri saye dagang apa'an. Emangnye saye kaga tau maksud saudare ape. Saudare pan mau jebak saye. Ga punya malu lu, mau ngejebak orang.
Demikian petikan Sahibul Hikayat Haji Ja'it.
Readmore → Humor Betawi